



Launching Negara Kartugama
Akhirnya saat itu datang juga. Kamis, 17 Desember 2009 adalah hari yang sangat bersejarah buatku. Pada hari itu, aku sudah resmi menjadi seorang penulis. Sebuah cita-cita yang sebenarnya tidak terlalu muluk, tapi sudah aku idam-idamkan sejak lama.
Setelah launching yang berlangsung di Bandung ini, Negara Kartugama, novelku, siap untuk melayani seluruh pembaca di tanah air. Petualangan Toni Andhika dan kawan-kawan akan menemani para pembaca sekalian, membuka cakrawala baru dalam penulisan novel, yang unik, berbeda dari novel-novel lain pada umumnya. Semoga teman-teman pembaca bisa menikmatinya.
Memang, aku hanyalah seorang penulis pemula, dan novel Negara Kartugama adalah novel pertamaku. Namun, segala sesuatu haruslah dimulai dari yang pertama. Novel ini adalah bagian pertama dari sebuah trilogi. Bagian pembuka, pengenalan, yang menuntun pembaca sehingga tidak akan terlalu sulit untuk memahami cerita-cerita lanjutannya yang sedikit rumit.
Pada kesempatan ini aku ingin mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang sudah memberikan dukungan sehingga acara ini bisa berjalan sukses. Kepada pak Wimpy, yang walaupun tidak bisa hadir, namun aku tahu telah mendukung sepenuhnya acara ini. Kepada Parpar, Mas Arief, Nia, Fera, Usi, Ois, dan semua yang sudah sangat membantu.
Juga kepada rekan-rekan yang memandu acara ini sehingga bisa menjadi sangat menarik. Pak Liliek (host), Bang Iwan (moderator), dan Pak Tendy serta Mba Zev sebagai pembicara utama.
Menurut Pak Tendy (seorang penulis dan dosen) baru membaca judulnya saja, awalnya ia kaget dan penasaran. Dan setelah membaca isinya, ia merasa akan ada banyak orang yang marah atau panas telinganya. Ia berpendapat, selain imajinasi, novel ini berisi pemikiran dan perenungan. Rangkuman rekaman peristiwa yang digabung dengan pengalaman penulisnya. Dan memang demikianlah adanya.
Pendapat Zev, seorang novelis, novel ini agak berat, sehingga dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk memahaminya. Juga terlalu maskulin. Namun novel ini juga menggambarkan persahabatan dan solidaritas. Menyegarkan ingatan akan peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi, membuat kita merenung kembali. Melakukan kritik tanpa provokasi.
Seperti biasa, pertanyaan pertama yang muncul adalah: “Kenapa aku menulis novel ini?” Terus terang, sebenarnya aku menulis novel ini sebagai alat untuk mengeluarkan unek-unek yang selama ini masih mampet di dalam otakku, tanpa ada sarana untuk membaginya.
Dengan hadirnya novel ini, sebagian unek-unek (keluhan) tersebut sudah tersalurkan. Tapi, masih banyak yang belum keluar, sehingga aku merencanakan untuk menulis dua novel lanjutan dengan tema cerita yang hampir sama, namun dengan mengetengahkan skandal yang lebih besar dan sudah sangat sering terdengar, walaupun orang-orang selama ini hanya berani membicarakannya dengan berbisik.
Selain itu, sebagai makhluk Tuhan yang diberi keberuntungan bisa beraktivitas di beragam bidang yang sangat menarik (dunia tulis menulis, olahraga, dan keuangan) aku merasa sudah saatnya untuk membagi pemikiran dan pengalaman berhargaku dengan para pembaca sekalian. Lalu, aku merangkumnya dalam sebuah cerita khayalan yang sangat menggugah, yang sebagian orang mungkin menganggapnya benar-benar terjadi.
Sebagai seorang atlit yang menjunjung tinggi sportivitas, tentu aku sangat anti kecurangan dan ketidak adilan. Sehingga, berbeda dengan novel-novel pada umumnya, disini aku menambahkan bagian kedua dari novel yang disebut post mortem, bagian yang membedah lebih dalam isi dari setiap bab-bab yang mengandung pelajaran bagi kita semua. Aku rasa, setetes kritik akan jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan sebelanga pujian.
Demikianlah, semoga para pembaca bisa mencerna isi dari novel Negara Kartugama ini. Seperti kata pepatah, tiada gading yang tak retak, dan aku sudah berusaha meminimalkan kesalahan atau kekeliruan yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan. Yang jelas, novel ini adalah fiksi semata, dan jika ada yang merasa tersinggung, aku hanya bisa minta maaf. Semoga novel ini bisa memberikan kontribusinya bagi kehidupan kita selanjutnya…




Tubuh perempuan telanjang itu terbaring persis disebelahnya, nyaris sempurna. Mata si lelaki seakan tak pernah puas melahapnya. Jari-jari Henry yang terbiasa dengan tuts piano masih belum rela menjauh dari kulit yang selembut sutera, menari-nari mengikuti lekuk tubuh bagian belakangnya, mengelus punggung wanita muda yang masih terbaring telungkup itu. Turun sedikit demi sedikit, akhirnya jarinya sampai ke sebuah tattoo mungil indah berbetuk bunga mawar yang selalu dikaguminya. Pelan-pelan, kulit telunjuknya merasakan sentuhan hangat kulit mulus wanita itu, memberi sensasi aneh yang membuat gejolak birahinya kembali menggelora.
Tetapi, kali ini perhatiannya agak teralih, ada sedikit keanehan yang sebenarnya sudah ingin ditanyakannya sejak beberapa hari lalu, saat pertemuan terakhir mereka. Waktu itu, ada terasa sedikit benjolan persis di kulit tempat tattoo tersebut bersemayam, sedikit diatas pinggul sebelah kiri kekasih gelapnya ini. Dan benjolan itu kini masih terasa. Henry hafal betul seluruh lekuk tubuh wanita ini, sehingga ia yakin sekali benjolan tersebut sebelumnya tidak pernah ada.
Baru saja mulutnya bersiap untuk melontarkan pertanyaan, tiba-tiba tubuh telanjang itu berbalik, dan dua bola mata indah langsung menerpanya, bagaikan matahari kembar yang menyinari bumi. Seperti biasa, mata itu selalu membuatnya terpesona, yang kali ini membuat otaknya lupa memberi perintah ke mulutnya untuk melanjutkan niat bertanya tadi. Demikian juga bibir indah yang sekarang persis berada dihadapannya. Bibir itu seringkali digunakan untuk menghibur orang-orang, karena ia memang seorang penyanyi terkenal negeri ini. Tetapi, yang membuatnya tak berdaya adalah kemampuan bibir itu dalam memberikan kenikmatan tak terhingga, yang sudah pernah dirasakan oleh seluruh anggota tubuh Henry.
“Tolong lebih hati-hati, mas. Bapak sangat berkuasa, juga berbahaya!” Suara mendesah si pemilik tubuh telanjang membuat Henry kembali sadar, bahwa ia masih belum menjawab pertanyaan kekasihnya tadi.
“Iya sayang, saya pasti sangat hati-hati. Semua orang kenal Bapak.” Tetapi saya tetap akan membongkarnya.
“Aku sangat menyayangimu, nggak mau kehilangan mas.”
“Saya juga. Thanks sayang,” jawab Henry sambil mencium lembut bibir itu.
“Tapi mas harus janji untuk menjaga diri mas baik-baik, jangan melakukan tindakan bodoh,” lanjut si wanita terlihat masih belum puas.
Henry terpekur sejenak sebelum menanggapi. Sampai saat ini, ia masih tetap canggung dengan panggilan kesayangan “mas” dari kekasihnya itu.
“Suatu hari nanti, kamu akan saya ajak ke kampungku. Di pinggir Danau Tondano, dekat Manado.”
“Moga-moga bisa ya mas,” sahut si wanita dengan mata yang berbinar, penuh harap.
“Sesampainya disitu, yang pertama kali akan kamu lihat adalah patung dua orang pahlawan Minahasa. Salah satunya adalah kakekku.”
“Iya deh mas. Aku yakin mas pasti mampu menjaga diri. Aku mengingatkan karena pernah melihat apa yang dilakukan Bapak terhadap orang yang dibencinya, ia sangat kejam. Yang pasti aku akan selalu membelamu, apapun taruhannya.”
Pikirannya yang sekarang terfokus ke orang yang disebutkan itu membuat nafsunya hilang, tetapi memang mereka sudah bercinta dua kali hari ini, lagipula ia memang tidak ingin berada terlalu lama bersama wanita tersebut.
Setengah jam kemudian, ia sudah berada di tempat parkir yang berada di basement hotel bintang empat yang terletak di daerah selatan Jakarta itu. Sambil nyetir, pikirannya tak pernah lepas dari sang Bapak. Instink wartawannya membuatnya menyusun rencana investigasi yang sampai saat ini belum sempurna betul. Tetapi ia benar-benar sangat bersemangat.
—
Pelan tapi pasti, pemuda beransel itu menaiki tangga yang biasa digunakan sebagai emergency exit di Hotel itu. Ia memang tidak menyukai lift. Selain menghindari kamera hotel, juga tempat yang ditujunya tidak terlalu tinggi, cukup untuk meregangkan otot-ototnya sebelum menyelesaikan tugas khusus, yang kali ini sebenarnya tidak disukainya.
Hanya dibutuhkan beberapa menit sebelum ia sampai di lantai tujuannya, keluar ke lorong hotel yang penuh dengan wewangian yang aromanya tidak sesuai dengan hidungnya. Tidak ada seorangpun terlihat di lorong itu, yang membuat langkahnya makin mantap menuju kamar yang terletak di ujung lorong. Beberapa detik kemudian, tanpa perlu mengeluarkan usaha yang berat, dengan menggunakan kunci magnet palsu, ia sudah berada di dalam kamar hotel.
Wanita penghuni kamar itu masih di kamar mandi, suara percik air dengan jelas menunjukkan keberadaannya. Sedangkan tempat tidur satu-satunya yang berada di tengah ruang itu masih semrawut. Seprai, bantal dan selimut malang melintang tidak beraturan. Ia dengan mudah bisa menduga aktifitas apa yang telah dilakukan diatas tempat tidur berukuran king size itu beberapa waktu yang lalu.
Dengan santai ia melepas ranselnya, mengenakan sarung tangan tipis kesayangannya, lalu duduk di kursi sambil meraih majalah yang kebetulan berada di meja di depannya. Televisi yang berada di sudut ruangan ia biarkan tetap menyala, menyiarkan berita-berita usang yang sudah seringkali didengarnya. Sambil membaca, ia menunggu wanita di kamar mandi menyelesaikan mandinya, yang diperkirakannya bisa sampai setengah jam lagi.
Masih sekitar sepuluh menit setelah bunyi percikan air terakhir tak terdengar, baru wanita itu keluar dari kamar mandi. Si pemuda yang mendengar suara pintu kamar mandi terbuka langsung menyingkirkan majalahnya, tanpa beranjak dari tempat duduknya.
Begitu pandangan mereka beradu, wanita yang mengenakan jubah mandi itu terihat sangat terkejut. Tetapi sebelum ia sempat mengeluarkan suara, si pemuda sudah mendahuluinya: “Jangan takut, Bapak menyuruh saya menemuimu disini.”
Suara yang hampir keluar dari bibir wanita itu langsung tertelan kembali. Wanita itu tidak bersuara, tetapi ingatannya kepada pemuda ini menimbulkan rasa ketakutan yang amat sangat.
Aku pernah bertemu dengannya satu kali.
Teman-teman Bapak sangat menghormatinya.
Bukan. Mereka takut kepadanya.
Mata yang mencorong seperti serigala menatap ke sosok yang gemetar. Sang dara bahkan masih berdiri di tempatnya tadi. Si Pemuda memperhatikan si wanita dengan lebih teliti. Ia terlihat sangat cantik, lebih memesona daripada yang pernah kubayangkan. Tapi aku harus menyelesaikan tugas ini dengan baik.
Si Pemuda membuka mulutnya: “Bapak sangat kecewa, ia sangat menyayangimu.”
“Maafkan saya,” isak si wanita. Ia sudah tidak bisa berpikir lagi, hanya kengerian yang menyelimuti jiwanya.
“Ya sudah, mungkin Bapak akan memaafkanmu,” bisik si Pemuda sambil menyentuh tangan si wanita.
Dari balik tabir air matanya, si wanita melihat jemari panjang yang terbalut sarung tangan transparan tipis itu. Ketakutannya makin memuncak, tetapi akal sehatnyapun muncul ke permukaan.
Aku sudah mengira ini bakal terjadi.
Tapi aku tak menduga akan secepat ini.
Si Wanita tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya, berlutut di depan si pemuda. Seperti tak sengaja, jubah mandinya terlepas dari badannya. Tubuh telanjangnya yang harum menyentuh si Pemuda. Sembari menangis, si wanita memohon sambil sesekali mencium kaki lawan bicaranya.
“Tolonglah. Apapun akan saya lakukan jika anda mau menyelamatkanku.”
“Baiklah, jangan takut,” balas si pemuda sambil menyentuh kepala si wanita lembut.
Dari kepala, tangan si pemuda berpindah ke belakang leher. Beberapa totokan dan pijatan yang terlatih membuat tubuh wanita itu lemas seketika. Ia masih sadar, tetapi tidak mampu bergerak atau berbicara. Si pemuda mengangkat tubuh tanpa daya itu, berusaha mengalihkan pandangannya dari tubuh mulus polos yang beberapa saat lalu sempat membuatnya tergetar, lalu memindahkannya keatas tempat tidur.
Tanpa tergesa-gesa, si pemuda membuka ranselnya, mengeluarkan beberapa barang yang sekarang dibutuhkannya untuk menyelesaikan tugasnya. Beberapa tabung berisi cairan bening warna-warni, pisau bedah kecil, jarum dan kain ia bawa ke tempat tidur untuk menuntaskan misinya hari ini.
Mata sayu itu sekarang berembun, lalu butiran air mata bening perlahan-lahan turun mengikuti alur lekuk wajah si wanita cantik. Walaupun tanpa suara, tetapi ekspresinya jelas sekali memohon pengampunan. Si pemuda melirik sedikit, dan pemandangan wajah memelas ditambah bentuk tubuh yang sangat menggoda sedikit mengganggu pikirannya. Tapi itu tidak berlangsung lama, dan ia melanjutkan tugasnya dengan mantap.
Samar-samar, lagu “Pindah ke lain hati” dari KLA Project berkumandang dari televisi di sudut ruangan. Ia sekarang sudah memakai hati baru.
Mendapatkan ide dari lagu tersebut, si pemuda berbisik: “Tak ada yang abadi di dunia yang fana ini. Suatu saat, Tuhan akan mengambilnya dari kita.”
Hanya kata-kata itu yang bisa disampaikannya, yang dianggapnya mungkin bisa menenangkan si wanita.
Tangan si pemuda yang sangat terlatih mengerjakan tugasnya dengan sigap. Ia memberikan suntikan di 25 titik di tubuh si wanita. 24 suntikan pertama berisi zat psikotropika yang akan membuat petugas otopsi mengira si wanita adalah pecandu berat narkoba. Sedangkan suntikan terakhir berisi racun yang tidak berbekas, tetapi mematikan, untuk memastikan agar si wanita tidak akan pernah mengkhianati tuannya lagi, untuk selamanya.
Bak seorang seniman, si pemuda memeriksa hasil pekerjaannya dengan teliti. Hampir tuntas, tinggal satu sentuhan terakhir. Dengan lembut tubuh si wanita ia balikkan, lalu ditelusurinya kulit mulus itu dengan jarinya. Hanya untuk memastikan, karena ia tahu pasti dimana tempat yang dicarinya. Jarinya berhenti tepat di tattoo si wanita, lalu ia ambil peralatan bedahnya. Dengan sedikit sayatan, ia keluarkan sebuah benda sebesar nasi dari bawah kulit si wanita. Benda yang sangat bermanfaat, ia sendiri yang menanamkannya dua minggu yang lalu, begitu si Bapak mencurigai kesetiaan wanita simpanan kesayangannya ini. Chip yang sangat kecil. Sinyalnya dikirim ke satelit untuk menentukan posisi si pemakai.
Sekali lagi si pemuda memeriksa tubuh korbannya. Bekas sayatan itu sekarang sudah hampir tidak kelihatan. Butuh sedikit waktu lagi untuk membuatnya tidak akan kentara sama sekali. Setelah mengembalikan posisi tubuh tersebut ke posisi semula, ia memeriksa seluruh ruangan.
Hanya handphone dan buku catatan harian wanita itu yang diambilnya, sisanya dibiarkan terletak di posisinya. Sebelum meninggalkan ruangan, ia foto posisi terakhir si wanita. Saat itu, tanda-tanda kehidupan perlahan meninggalkan tubuh si wanita. Dengan tenang si pemuda meninggalkan korbannya.
Dari dalam mobilnya, si pemuda berbicara melalui handphone dengan orang yang menugaskannya. Misi telah selesai. Beberapa saat lagi seorang biksu dan seorang perawat akan datang ke kamar itu, untuk membawa tubuh sekarat si wanita ke rumah sakit.




PROLOG
Minggu, tengah malam
Malam itu sangat kelam, tak terlihat jejak bintang sepotongpun. Seorang pria berjaket kulit hitam turun dari sebuah mobil coklat di jalan sepi pada sebuah kompleks perumahan di pinggiran ibu kota. Dengan santai ia melenturkan tubuhnya sambil mengisi paru-parunya dengan udara lokal yang masih jernih. Polusi belum menyentuh daerah ini.
Harumnya negeriku. Malam yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Aku akan melakukan tugas yang mudah. Dengan pahala yang berlipat ganda.
Kata-kata Sang Maha masih terngiang ditelinganya, “Aku mempercayakan tugas yang sangat penting ini hanya kepadamu. Berhati-hatilah, jangan sampai gagal.”
Ia berjalan tanpa tergesa-gesa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tempat parkir itu dipilih dengan sangat teliti. Kemungkinan kecurigaan dari penduduk setempat mendekati nol permil. Sangat, sangat kecil.
Tujuannya sebuah rumah minimalis berjarak sekitar satu setengah kilometer dari lokasi tersebut. Kakinya terus bergerak melewati jalan selebar 5 meter dengan hotmix yang sempurna. Beberapa saat kemudian, ia berbelok ke kiri. Hanya ada dua rumah disitu. Sebuah taman yang cukup luas dengan angkuhnya bersemayam diantara kedua rumah tersebut. Sempurna.
Tak lama si lelaki sudah sampai di depan rumah bernomor 41 yang terletak disebelah kanan taman. Sekilas ia melirik jam di pergelangannya yang berotot. Waktunya tepat. Aku tidak pernah telat. Saat itu sudah menjelang dini hari.
Dengan perlahan ia mengangkat postur jangkungnya melompat melewati pagar. Tanpa bersuara tubuhnya mengendap-endap menghampiri pintu samping rumah tersebut. Pintu biasa yang sangat sederhana. Kuncinya tidak dicabut, berada dibagian dalam. Si jangkung mengeluarkan peralatannya. Tidak bisa menggunakan kunci palsu. Tetapi ia sudah menyiapkan kunci magnet yang berbentuk seperti paku dengan ujung tumpul. Dengan hati-hati ia memasukkan alat tersebut ke lubang kunci. Setelah ujungnya menyentuh anak kunci, ia menekan tombol pada pegangan alat tersebut yang mengaktifkan magnetnya. Sekarang ia dapat memutar anak kunci dengan gampang, semudah memutar anak kunci tersebut dari dalam.
Sepuluh detik kemudian ia sudah berada di dalam rumah. Waktuku hanya setengah jam, sebelum patroli keamanan berikutnya lewat. Ada 4 kamar di rumah ini. Kamar utama berada di depan bersebelahan dengan ruang tamu. Dua kamar lainnya yang dihuni anak-anak berada di dekat ruang keluarga. Sedangkan satu kamar dibelakang ditempati pembantu. Sejenak ia memeriksa keadaan. Tidak ada yang mencurigakan, semua kamar tertutup tanpa penerangan. Memakai helm penutup kepala dan pelindung hidung yang sudah dipersiapkan, si penyatron gelap langsung menuju kamar utama.
Pintu tidak terkunci, sangat mempermudah. Aku benci kemudahan. Dengan memanfaatkan tungkainya yang sangat terlatih, seperti kucing, ia menyelinap ke dalam dengan hati-hati. Helm canggih yang dipakainya membuat penglihatannya sangat jelas walaupun di kegelapan. Terlihat seorang lelaki dan wanita tidur berdampingan. Ia berdiam sesaat untuk memastikan keadaan aman. Kemudian tangannya merogoh saku jaket, mengeluarkan dua buah kain lunak. Membubuhkan cairan dari botol yang sudah dipersiapkan, ia siap beraksi. Pertama membenamkan kain yang sudah sedikit basah tersebut ke hidung si lelaki. Sedetik kemudian sang wanita memperoleh gilirannya. Tidak ada gerakan apapun. Tidur yang sangat lelap. Sekarang aku bisa kerja dengan tenang.
Ia mengeluarkan sebuah jarum suntik yang ekstra mungil, alat suntik yang biasa digunakan untuk bayi. Sebuah tabung yang berisi cairan agak kental berwarna kekuningan disambungkan ke pangkal jarum. Setelah menghidupkan senter kecil yang menempel di helmnya, ia menjalankan tugas utamanya. Sangat mudah. Tidak ada masalah sama sekali. Sekali lagi ia membersihkan dan memeriksa nadi yang tertusuk jarum tadi. Tidak ada bekas sedikitpun.
Sekarang ia sudah berada di luar rumah. Hanya dibutuhkan delapan menit dari saat memasuki rumah tadi. Ia mengeluarkan sebuah bungkusan yang telah dipersiapkan, lalu membuang isinya di pekarangan rumah.
Setengah jam kemudian, sambil mengemudikan mobilnya di suasana lengang dini hari kota Jakarta, ia membuka flip telepon selularnya. “Selesai,” hanya itu suara yang keluar dari mulutnya.


More Options ...

Categories
Tag Cloud
Blog RSS
Comments RSS
Void
Life « Default
Earth
Wind
Water
Fire
Light 