



Gold Coast,
Surganya Para Peselancar
Ombak yang berkejar-kejaran, pasir putih bersinar memukau, sinar matahari yang mencumbu tubuh, ditambah dengan pub dan kasino yang buka 24 jam. Itulah sebagian dari magnet yang membuat orang selalu datang ke Gold Coast. Jika anda pemain bridge, lakukanlah ritual ini setiap hari:
Surf Half Day, Party Half Night, Bridge the Rest.
Gold Coast, sebuah kota pantai di pesisir Timur benua Australia. Sungguh sudah cukup lama penulis berangan-angan mencicipi keindahan pantainya yang sudah sangat terkenal di dunia. Namun apa daya, penulis hanya bisa sampai di ibukota negara bagian Queensland tersebut (Brisbane) yang jaraknya masih 1,5 jam dari Gold Coast. Pada waktu itu (1997) kebetulan Indonesia diundang mengikuti penyisihan Bermuda Bowl Zone 7, dimana Indonesia keluar sebagai juara pertama.
Kesempatan itu tiba-tiba muncul ketika tim Pattimura (Hasyim Arief, FR Waluyan, Lusye Bojoh, Robert Tobing, Adjat Abdurojak dan penulis) berhasil menjuarai Liga Bridge Jakarta 2002 setelah mengalahkan regu CBC di Final. Sebagai hadiahnya kami dikirim ke Gold Coast. Sayang Hasyim dan Ferdy tidak bisa pergi sehingga hanya kami berempat yang mewakili Pattimura bertanding di Gold Coast Congress, 18-22 Februari 2003 yang lalu.
Di hari pertama, sambil melahap breakfast khas negeri Kangguru, tanpa sengaja penulis membaca harian lokal dengan topik utama bom Bali dengan covernya si “ganteng” Amrozi yang terlihat tersenyum bahagia seperti layaknya seorang anak kecil yang baru mendapatkan permen. Pantas saja di negeri ini ia digelari “Smiling Assassin” atau “Si Pembunuh yang murah senyum”.
Selepas menjalani kewajiban sore yaitu olah raga kaki dan mata (istilah kerennya windows shopping), malamnya kami sudah menghadapi problem-problem bridge yang cukup rumit dan menuntut ketelitian di di level 2 Hotel ANA.
Penyisihan ronde kedua, muncul papan yang cukup menarik untuk dianalisa.
Papan 21.1098 U / US
J1083
Q3
10643
J4
K753
K54
A9762
109876
AK
A82
KQ
AQ62
Q
J542
J975
Kontrak pasaran 4
tercapai di semua meja. Sayang kartu harus kalah 4 trik di warna Major karena pembagian trump yang miring dan posisi Spade yang tidak menguntungkan.
Sudahlah kawan, jangan pikirkan lagi papan-papan yang telah berlalu itu. Mari kita nikmati pemandangan dan semua fasilitas di “Pantai Emas” ini.
Walaupun hujan terus turun, kami tetap berjalan menikmati pemandangan pantai berbumbu tubuh-tubuh elok yang hanya ditutupi oleh secuil kain.
Sambil membayangkan enaknya makan “Surfers Steak” disertai dengan teman-teman baru (kami mendapatkan teman baru dengan cara menawarkan rokok Djarum yang sengaja dibawa dari Jakarta), kami harus berkonsentrasi penuh ke pertandingan selanjutnya, karena di pool kami yang pesertanya lebih dari 100 regu hanya diambil 2 regu untuk maju ke Semi Final.
Muncul papan berikut.
Papan 6.Q97 T / TB
Q105
J4
Q10763
A3
10862
2
J9874
AQ1087652
K
J9
AK8
KJ54
AK63
93
542
Di Closed Room kami hanya mencapai kontrak 3NT, sedangkan di Open Room lawan mencapai kontrak yang lebih ambisius yaitu small slam di Diamond.
Utara lead
5. Setelah menang dengan
K, Robert Tobing yang duduk di Selatan berhasil mendapatkan solusi yang tepat untuk papan ini, yaitu dengan kembali trump. Ndak jelas apakah ia mendapat ilham setelah menang main di kasino pada malam sebelumnya atau tidak, yang pasti cara itu adalah satu-satunya jalan untuk mematikan kontrak. Jika ia kembali lain, declarer dapat melakukan double finesse di Club untuk membuang satu kartu kalah di Spade (dengan
K sebagai entri).
Setelah menikmati pengalaman berteriak sekeras-kerasnya pada saat dilontarkan dengan kecepatan tinggi oleh sebuah alat permainan bernama “Sling Shoot” (bahasa Indonesianya ketapel) kami kembali harus menghadapi kartu-kartu dengan segala problemnya pada saat melawan tim kuat tuan rumah di Semi Final.
Belum apa-apa kami sudah dihadapkan distribusi bermasalah dibawah ini:
Papan 10.1073 T / Semua
A8
1092
KJ963
AQ854
J62
K743
652
QJ
A76
74
AQ82
K9
QJ109
K8543
102
Di ruang sebelah, lawan hanya mencapai kontrak 2
dengan hasil persis masuk.
Bidding di meja kami:
| Barat | Utara | Timur | Selatan |
| 1 |
Pass | ||
| 1 |
Pass | 1NT | Pass |
| 2 |
Dbl(3) | 2 |
Dbl(4) |
| 4 |
// |
1: Precision 2: Check back stayman 3: Penalty kalau 2natural 4: Take Out
Kontrak 4
masuk, 620 buat Indonesia. Tetapi lawan langsung memanggil director karena sewaktu Barat bid 2
Timur tidak alert. Alasannya kalau 2
bukan natural ia tidak akan melakukan double dan katanya kemungkinan besar declarer akan salah memainkan kartu.
Director menyatakan skor stand (4
+0) dan lawan memutuskan untuk appeal.
Proses appeal dilakukan sampai lewat tengah malam waktu setempat. Berbagai macam pertanyaan yang kurang masuk diakal ditanyakan kepada kedua belah pihak. Penulis sendiri ditanya kenapa cara mainnya begitu (mengharapkan
A dua lembar di Utara) dan lain sebagainya yang membuat kepala pusing tujuh keliling.
Tentu saja mainnya harus begitu. Utara lead Diamond yang dimenangkan oleh Selatan, lalu ia kembali H
(lebih baik
10 atau yang lainnya). Declarer membutuhkan Selatan pegang
K untuk suksesnya kontrak. Karena ia sudah ada
K dan
Q, kemungkinan besar
A ada di Utara. Apalagi dengan pengembalian
Q lebih memperjelas posisi Heart.
Esok paginya baru ada keputusan dimana skor stand, tetapi Indonesia terkena hukuman 2 IMP.
Yang kami sangat sayangkan pemain TB adalah pemain top Australia yang sudah puluhan kali membela negaranya. Tidak selayaknya mereka mencari-cari kesalahan lawan yang mungkin tidak disengaja. Rasanya sudah sangat jarang di turnamen tingkat tinggi pemain bid 2
yang artinya natural.
Terjadi perpindahan meja. Ketika lawan hendak memperkenalkan namanya sebelum bermain, partner penulis langsung menjabat tangannya seraya berkata “Tidak perlu memperkenalkan diri, bahkan hampir semua buku anda sudah saya baca”.
Akhirnya kami dihadapkan pada sebuah papan yang sangat menentukan hasil dari partai semi final kami.
Papan 14.A72 T / ---
976
AQJ964
7
64
Q109
1085
AQJ43
K10752
83
J63
AKQ
KJ853
K2
---
1098542
Bidding yang terjadi:
| Barat | Utara | Timur | Selatan |
| 1 |
2 |
Pass | |
| Pass | 3 |
Dbl(2) | // |
Kontrak 3
double dari Utara. Timur lead
A, dilanjutkan dengan
A dan Heart kecil. Ron Klinger sebagai declarer langsung mainkan Club ruff, Spade ke Jack, Club ruff lagi, Spade ke King lalu main Club dari dummy pada posisi ini:
A
9
AQJ9
![]()
![]()
Q
10
QJ4
K10752
83
![]()
![]()
853
![]()
![]()
1098
Ruff dengan
9 (Barat buang Heart). Exit dengan Heart atau Spade, Barat dua kali harus kembali Diamond sehingga diperoleh 9 trik. 470 untuk lawan.
Kekalahan di papan ini membuat regu kami gagal mencapai Final. Yang lebih membuat kecewa karena selisihnya yang hanya 4 IMP saja (sebenarnya 2 IMP kalau tidak ada hukuman diatas).
Akhirnya lawan kami tersebut (Ron Klinger, Bruce Neill, Tim Seres, dan Z Nagy) berhasil menjuarai Gold Coast Congress 2003 setelah di Final mengalahkan tim nasional Selandia Baru.
Seperti mottonya “Surfers Paradise”, memang Gold Coast bisa dikatakan sebagai surga bagi para peselancar dari seluruh dunia. Pantai di Gold Coast, yang disebut-sebut sebagai salah satu pantai terindah di dunia juga memiliki karakter ombak yang sangat sesuai untuk dilahap oleh para peselancar.
Adalah pemandangan yang lumrah saja kalau kita melihat para mantan juara dunia yang bertelanjang dada berseliweran di pantai setiap hari.
Bukan hanya bisa melihat peselancar-peselancar top dunia kelahiran Australia seperti Joel Parkinson, Andy Irons, atau bahkan sang juara dunia 1999 Mark Ochiluppo. Kitapun bisa menyaksikan langsung peselancar belia pujaan seluruh rakyat Australia (termasuk penulis) Mick Eugene Fanning yang memang menetap di Gold Coast.
Mick Fanning yang beberapa bulan berselang sudah mampu mengalahkan si juara dunia Sonny Garcia, terlihat sangat menawan dengan rambut pirangnya. Sayangnya ia tidak memperlihatkan kemampuannya yang konon mampu untuk terbang melewati ombak sampai setinggi 6 kaki. Mungkin ketrampilan tersebut disimpannya khusus untuk kejuaraan dunia mendatang. Bisa jadi ditundanya untuk tahun depan, dengan harapan kami bisa hadir lagi disana untuk menikmatinya.
Sambil melihat pesisir pantai dari dalam limousine yang membawa kami ke airport, penulis masih berharap agar kiranya bisa diberi kesempatan lagi untuk menikmati surga dunia ini. (bersambung..)




Kiat Eddy Manoppo Menggusur Forquet
Mendengar nama Pietro Forquet, rasanya tidak ada satupun pemain bridge aktifyang tidak mengenalnya. Bergabung dengan pemain legendaris dunia Benitto Garozzo, mereka mewakili Tim Italia untuk merebut Seniors Bowl di Estoril, Portugal, tahun 2005 lalu.
Bagi yang sudah agak lupa, Garozzo dan Forquet adalah tulang punggung “The Blue Team” yang sangat terkenal itu ketika mereka merebut juara dunia sebanyak belasan kali (!!!).
Pada saat itu, tidak ada satupun pemain kita yang mumpuni untuk menghadapi mereka. Tetapi kesempatan untuk balas dendam muncul di Estoril. Tim Indonesia yang terdiri dari Eddy M, Henky Lasut, Denny Sacul, Munawar Sawirudin, Amiruddin Jusuf, Arwin Budirahardja dan Taufik Asbi (coach) mendapatkan kesempatan emas itu.
Terjadi perang bidding pada papan dibawah ini:
Papan 3.Q3 S / TB
Q8
KQ10984
J84
J862
K105
972
J1065
J762
3
75
K10932
A974
AK43
A5
AQ6
Bidding di Open Room:
| Barat | Utara | Timur | Selatan |
| 2NT | |||
| Pass | 3NT | Pass | 4 |
| Pass | 4NT | // |
Bidding di Closed Room:
| Barat | Utara | Timur | Selatan |
| 2NT | |||
| Pass | 3 |
Pass | 3 |
| Pass | 4 |
Pass | 4 |
| Pass | 4NT | Pass | 6 |
| Pass | 6NT | // |
Apapun arti dari penawaran mereka, yang jelas Eddy Manoppo harus menyelesaikan kontrak slam yang dipercayakan oleh partnernya. Sementara lawan di ruang terbuka hanya puas bermain di kontrak game saja.
Barat lead
7, 8, 10, King. Eddy sebagai declarer langsung memainkan tiga putaran Diamond, dimana Timur buang
3 dan
5 (Selatan buang
4). Sekarang dari dummy main Diamond lagi, Masucci buang
2, sedangkan Eddy buang Spade di tangan. Barat yang menang dengan
J melanjutkan dengan menyerang
7, 8, 10, Queen.
Sekarang Eddy harus main pada posisi dibawah ini:
Q3
Q
98
J4
J862
K10
92
J65
![]()
![]()
5
K9
A9
A43
![]()
A6
Eddy Manoppo, yang sudah merasakan asam garam pertarungan tingkat atas dunia selama puluhan tahun, tidak membuat kesalahan sedikitpun. Ia turun ke dummy dengan
Q lalu main Diamond yang sudah besar. Sekarang Timur sudah kepepet, ia kena teknik squeeze yang diperagakan dengan cantik oleh Eddy. Pada posisi ini, ia bahkan sudah terkena squeeze di tiga warna. Kartu apapun yang ia discard akan memberikan tambahan trik bagi declarer, sehingga ia hanya bisa menyerah dengan pasrah.
Permainan yang indah dari Eddy ini membuat Tim Indonesia berhasil mengalahkan Italia dengan skor 18-12 VP. Sayang, di babak Final Indonesia harus mengakui keunggulan Tim USA yang diperkuat pemain-pemain top dunia saat ini seperti Alan Sontag, Peter Weichsel, Lew Stansby, dan Roger Bates. Suatu hasil yang kurang memuaskan, tetapi cukup bergengsi karena para pemain diatas juga sudah berkali-kali menjadi juara dunia.
Pelajarannya adalah, kita sebagai pemain bridge harus belajar terus dan kalau bisa menguasai semua teknik-teknik yang ada. Disini Eddy Manoppo yang dulu pernah sangat terkenal dengan julukan “Manoppo bersaudara” nya mengajarkan kita untuk tetap teliti dalam setiap permainan. Walaupun sudah cukup berumur, Eddy dan pasangannya saat ini, Henky Lasut, masih sangat sulit untuk dikalahkan. Bukan saja oleh kita, bahkan oleh para pemain top di seluruh dunia sekalipun.


More Options ...

Categories
Tag Cloud
Blog RSS
Comments RSS
Void
Life « Default
Earth
Wind
Water
Fire
Light 