12 Jan 2009 @ 2:27 PM 

Gold Coast,

Surganya Para Peselancar

Ombak yang berkejar-kejaran, pasir putih bersinar memukau, sinar matahari yang mencumbu tubuh, ditambah dengan pub dan kasino yang buka 24 jam. Itulah sebagian dari magnet yang membuat orang selalu datang ke Gold Coast. Jika anda pemain bridge, lakukanlah ritual ini setiap hari:
Surf Half Day, Party Half Night, Bridge the Rest.

Gold Coast, sebuah kota pantai di pesisir Timur benua Australia. Sungguh sudah cukup lama penulis berangan-angan mencicipi keindahan pantainya yang sudah sangat terkenal di dunia. Namun apa daya, penulis hanya bisa sampai di ibukota negara bagian Queensland tersebut (Brisbane) yang jaraknya masih 1,5 jam dari Gold Coast. Pada waktu itu (1997) kebetulan Indonesia diundang mengikuti penyisihan Bermuda Bowl Zone 7, dimana Indonesia keluar sebagai juara pertama.

Kesempatan itu tiba-tiba muncul ketika tim Pattimura (Hasyim Arief, FR Waluyan, Lusye Bojoh, Robert Tobing, Adjat Abdurojak dan penulis) berhasil menjuarai Liga Bridge Jakarta 2002 setelah mengalahkan regu CBC di Final. Sebagai hadiahnya kami dikirim ke Gold Coast. Sayang Hasyim dan Ferdy tidak bisa pergi sehingga hanya kami berempat yang mewakili Pattimura bertanding di Gold Coast Congress, 18-22 Februari 2003 yang lalu.

Di hari pertama, sambil melahap breakfast khas negeri Kangguru, tanpa sengaja penulis membaca harian lokal dengan topik utama bom Bali dengan covernya si “ganteng” Amrozi yang terlihat tersenyum bahagia seperti layaknya seorang anak kecil yang baru mendapatkan permen. Pantas saja di negeri ini ia digelari “Smiling Assassin” atau “Si Pembunuh yang murah senyum”.

Selepas menjalani kewajiban sore yaitu olah raga kaki dan mata (istilah kerennya windows shopping), malamnya kami sudah menghadapi problem-problem bridge yang cukup rumit dan menuntut ketelitian di di level 2 Hotel ANA.

Penyisihan ronde kedua, muncul papan yang cukup menarik untuk dianalisa.

Papan 21.	s1 1098
U / US		h2 J1083
                d2 Q3
                c2 10643
s2 J4				s3 K753
h3 K54				h4 A9762
d3 109876			d4 AK
c3 A82				c4 KQ
		s4 AQ62
		h5 Q
		d5 J542
	        c5 J975

Kontrak pasaran 4h6 tercapai di semua meja. Sayang kartu harus kalah 4 trik di warna Major karena pembagian trump yang miring dan posisi Spade yang tidak menguntungkan.

Sudahlah kawan, jangan pikirkan lagi papan-papan yang telah berlalu itu. Mari kita nikmati pemandangan dan semua fasilitas di “Pantai Emas” ini.

Walaupun hujan terus turun, kami tetap berjalan menikmati pemandangan pantai berbumbu tubuh-tubuh elok yang hanya ditutupi oleh secuil kain.

Sambil membayangkan enaknya makan “Surfers Steak” disertai dengan teman-teman baru (kami mendapatkan teman baru dengan cara menawarkan rokok Djarum yang sengaja dibawa dari Jakarta), kami harus berkonsentrasi penuh ke pertandingan selanjutnya, karena di pool kami yang pesertanya lebih dari 100 regu hanya diambil 2 regu untuk maju ke Semi Final.

Muncul papan berikut.

Papan 6.	s11 Q97
T / TB		h11 Q105
                d24 J4
                c24 Q10763
s13 A3				s12 10862
h10 2				h12 J9874
d12 AQ1087652			d11 K
c10 J9				c11 AK8
		s14 KJ54
		h13 AK63
		d13 93
	        c12 542

Di Closed Room kami hanya mencapai kontrak 3NT, sedangkan di Open Room lawan mencapai kontrak yang lebih ambisius yaitu small slam di Diamond.

Utara lead h385. Setelah menang dengan h47K, Robert Tobing yang duduk di Selatan berhasil mendapatkan solusi yang tepat untuk papan ini, yaitu dengan kembali trump. Ndak jelas apakah ia mendapat ilham setelah menang main di kasino pada malam sebelumnya atau tidak, yang pasti cara itu adalah satu-satunya jalan untuk mematikan kontrak. Jika ia kembali lain, declarer dapat melakukan double finesse di Club untuk membuang satu kartu kalah di Spade (dengan d37K sebagai entri).

Setelah menikmati pengalaman berteriak sekeras-kerasnya pada saat dilontarkan dengan kecepatan tinggi oleh sebuah alat permainan bernama “Sling Shoot” (bahasa Indonesianya ketapel) kami kembali harus menghadapi kartu-kartu dengan segala problemnya pada saat melawan tim kuat tuan rumah di Semi Final.

Belum apa-apa kami sudah dihadapkan distribusi bermasalah dibawah ini:

Papan 10.	s15 1073
T / Semua	h14 A8
                d14 1092
                c13 KJ963
s16 AQ854				s17 J62
h15 K743				h16 652
d15 QJ			        d16 A76
c14 74				c15 AQ82
		s18 K9
		h17 QJ109
		d17 K8543
	        c16 102

Di ruang sebelah, lawan hanya mencapai kontrak 2h39 dengan hasil persis masuk.

Bidding di meja kami:
Barat Utara Timur Selatan
1d6(1) Pass
1s5 Pass 1NT Pass
2c6(2) Dbl(3) 2s5 Dbl(4)
4s5 //

1: Precision
2: Check back stayman
3: Penalty kalau 2c6 natural
4: Take Out

Kontrak 4s39 masuk, 620 buat Indonesia. Tetapi lawan langsung memanggil director karena sewaktu Barat bid 2c37 Timur tidak alert. Alasannya kalau 2c38 bukan natural ia tidak akan melakukan double dan katanya kemungkinan besar declarer akan salah memainkan kartu.

Director menyatakan skor stand (4s40+0) dan lawan memutuskan untuk appeal.

Proses appeal dilakukan sampai lewat tengah malam waktu setempat. Berbagai macam pertanyaan yang kurang masuk diakal ditanyakan kepada kedua belah pihak. Penulis sendiri ditanya kenapa cara mainnya begitu (mengharapkan h41A dua lembar di Utara) dan lain sebagainya yang membuat kepala pusing tujuh keliling.

Tentu saja mainnya harus begitu. Utara lead Diamond yang dimenangkan oleh Selatan, lalu ia kembali Hh42 (lebih baik h4810 atau yang lainnya). Declarer membutuhkan Selatan pegang s41K untuk suksesnya kontrak. Karena ia sudah ada d38K dan h43Q, kemungkinan besar h44A ada di Utara. Apalagi dengan pengembalian h45Q lebih memperjelas posisi Heart.

Esok paginya baru ada keputusan dimana skor stand, tetapi Indonesia terkena hukuman 2 IMP.

Yang kami sangat sayangkan pemain TB adalah pemain top Australia yang sudah puluhan kali membela negaranya. Tidak selayaknya mereka mencari-cari kesalahan lawan yang mungkin tidak disengaja. Rasanya sudah sangat jarang di turnamen tingkat tinggi pemain bid 2c39 yang artinya natural.

Terjadi perpindahan meja. Ketika lawan hendak memperkenalkan namanya sebelum bermain, partner penulis langsung menjabat tangannya seraya berkata “Tidak perlu memperkenalkan diri, bahkan hampir semua buku anda sudah saya baca”.

Akhirnya kami dihadapkan pada sebuah papan yang sangat menentukan hasil dari partai semi final kami.

Papan 14.	s22 A72
T / ---		h18 976
                d19 AQJ964
                c18 7
s23 64				s24 Q109
h19 1085				h20 AQJ43
d20 K10752			d21 83
c19 J63				c20 AKQ
		s25 KJ853
		h21 K2
		d22 ---
	        c21 1098542
Bidding yang terjadi:
Barat Utara Timur Selatan
1s5(1) 2h6 Pass
Pass 3d6 Dbl(2) //
1: 4+ Diamond 2: Take Out

Kontrak 3d39 double dari Utara. Timur lead c40A, dilanjutkan dengan h46A dan Heart kecil. Ron Klinger sebagai declarer langsung mainkan Club ruff, Spade ke Jack, Club ruff lagi, Spade ke King lalu main Club dari dummy pada posisi ini:

	                 s26  A
		h23 9
                d23 AQJ9
                c23
s27 				s28 Q
h24 10				h25 QJ4
d25 K10752			d26 83
c25 				c26
		s29 853
		h26
		d27
	        c27 1098

Ruff dengan d409 (Barat buang Heart). Exit dengan Heart atau Spade, Barat dua kali harus kembali Diamond sehingga diperoleh 9 trik. 470 untuk lawan.

Kekalahan di papan ini membuat regu kami gagal mencapai Final. Yang lebih membuat kecewa karena selisihnya yang hanya 4 IMP saja (sebenarnya 2 IMP kalau tidak ada hukuman diatas).

Akhirnya lawan kami tersebut (Ron Klinger, Bruce Neill, Tim Seres, dan Z Nagy) berhasil menjuarai Gold Coast Congress 2003 setelah di Final mengalahkan tim nasional Selandia Baru.

Seperti mottonya “Surfers Paradise”, memang Gold Coast bisa dikatakan sebagai surga bagi para peselancar dari seluruh dunia. Pantai di Gold Coast, yang disebut-sebut sebagai salah satu pantai terindah di dunia juga memiliki karakter ombak yang sangat sesuai untuk dilahap oleh para peselancar.

Adalah pemandangan yang lumrah saja kalau kita melihat para mantan juara dunia yang bertelanjang dada berseliweran di pantai setiap hari.

Bukan hanya bisa melihat peselancar-peselancar top dunia kelahiran Australia seperti Joel Parkinson, Andy Irons, atau bahkan sang juara dunia 1999 Mark Ochiluppo. Kitapun bisa menyaksikan langsung peselancar belia pujaan seluruh rakyat Australia (termasuk penulis) Mick Eugene Fanning yang memang menetap di Gold Coast.

Mick Fanning yang beberapa bulan berselang sudah mampu mengalahkan si juara dunia Sonny Garcia, terlihat sangat menawan dengan rambut pirangnya. Sayangnya ia tidak memperlihatkan kemampuannya yang konon mampu untuk terbang melewati ombak sampai setinggi 6 kaki. Mungkin ketrampilan tersebut disimpannya khusus untuk kejuaraan dunia mendatang. Bisa jadi ditundanya untuk tahun depan, dengan harapan kami bisa hadir lagi disana untuk menikmatinya.

Sambil melihat pesisir pantai dari dalam limousine yang membawa kami ke airport, penulis masih berharap agar kiranya bisa diberi kesempatan lagi untuk menikmati surga dunia ini. (bersambung..)

Tags Tags: ,
Categories: Perjalanan, Profil
Posted By: Taufik
Last Edit: 24 Jan 2009 @ 09 35 AM

E-mailPermalinkComments (1)
 11 Jan 2009 @ 8:02 PM 

Kiat Eddy Manoppo Menggusur Forquet

Mendengar nama Pietro Forquet, rasanya tidak ada satupun pemain bridge aktifyang tidak mengenalnya. Bergabung dengan pemain legendaris dunia Benitto Garozzo, mereka mewakili Tim Italia untuk merebut Seniors Bowl di Estoril, Portugal, tahun 2005 lalu.

Bagi yang sudah agak lupa, Garozzo dan Forquet adalah tulang punggung “The Blue Team” yang sangat terkenal itu ketika mereka merebut juara dunia sebanyak belasan kali (!!!).

Pada saat itu, tidak ada satupun pemain kita yang mumpuni untuk menghadapi mereka. Tetapi kesempatan untuk balas dendam muncul di Estoril. Tim Indonesia yang terdiri dari Eddy M, Henky Lasut, Denny Sacul, Munawar Sawirudin, Amiruddin Jusuf, Arwin Budirahardja dan Taufik Asbi (coach) mendapatkan kesempatan emas itu.

Terjadi perang bidding pada papan dibawah ini:

Papan 3.	s30 Q3
S / TB		h27 Q8
                d28 KQ10984
                c28 J84
s31 J862				s32 K105
h28 972				h29 J1065
d29 J762			        d30 3
c29 75				c30 K10932
		s33 A974
		h30 AK43
		d31 A5
	        c31 AQ6
Bidding di Open Room:
Barat Utara Timur Selatan
2NT
Pass 3NT Pass 4h31
Pass 4NT //
Bidding di Closed Room:
Barat Utara Timur Selatan
2NT
Pass 3c32 Pass 3h32
Pass 4d32 Pass 4s34
Pass 4NT Pass 6h33
Pass 6NT //


Apapun arti dari penawaran mereka, yang jelas Eddy Manoppo harus menyelesaikan kontrak slam yang dipercayakan oleh partnernya. Sementara lawan di ruang terbuka hanya puas bermain di kontrak game saja.

Barat lead h67, 8, 10, King. Eddy sebagai declarer langsung memainkan tiga putaran Diamond, dimana Timur buang c63 dan s55 (Selatan buang s54). Sekarang dari dummy main Diamond lagi, Masucci buang c62, sedangkan Eddy buang Spade di tangan. Barat yang menang dengan d6J melanjutkan dengan menyerang c67, 8, 10, Queen.

Sekarang Eddy harus main pada posisi dibawah ini:

	        s35 Q3
		h34 Q
                d33 98
                c33 J4
s36 J862				s37 K10
h36 92				h35 J65
d34 			        d35
c34 5				c35 K9
		s38 A9
		h37 A43
		d36
	        c36 A6

Eddy Manoppo, yang sudah merasakan asam garam pertarungan tingkat atas dunia selama puluhan tahun, tidak membuat kesalahan sedikitpun. Ia turun ke dummy dengan h6Q lalu main Diamond yang sudah besar. Sekarang Timur sudah kepepet, ia kena teknik squeeze yang diperagakan dengan cantik oleh Eddy. Pada posisi ini, ia bahkan sudah terkena squeeze di tiga warna. Kartu apapun yang ia discard akan memberikan tambahan trik bagi declarer, sehingga ia hanya bisa menyerah dengan pasrah.

Permainan yang indah dari Eddy ini membuat Tim Indonesia berhasil mengalahkan Italia dengan skor 18-12 VP. Sayang, di babak Final Indonesia harus mengakui keunggulan Tim USA yang diperkuat pemain-pemain top dunia saat ini seperti Alan Sontag, Peter Weichsel, Lew Stansby, dan Roger Bates. Suatu hasil yang kurang memuaskan, tetapi cukup bergengsi karena para pemain diatas juga sudah berkali-kali menjadi juara dunia.

Pelajarannya adalah, kita sebagai pemain bridge harus belajar terus dan kalau bisa menguasai semua teknik-teknik yang ada. Disini Eddy Manoppo yang dulu pernah sangat terkenal dengan julukan “Manoppo bersaudara” nya mengajarkan kita untuk tetap teliti dalam setiap permainan. Walaupun sudah cukup berumur, Eddy dan pasangannya saat ini, Henky Lasut, masih sangat sulit untuk dikalahkan. Bukan saja oleh kita, bahkan oleh para pemain top di seluruh dunia sekalipun.

Tags Tags:
Categories: Profil
Posted By: Taufik
Last Edit: 20 Jan 2009 @ 04 17 PM

E-mailPermalinkComments (0)
\/ More Options ...
Change Theme...
  • Users » 1
  • Posts/Pages » 13
  • Comments » 4
Change Theme...
  • VoidVoid
  • LifeLife « Default
  • EarthEarth
  • WindWind
  • WaterWater
  • FireFire
  • LiteLight
  • No Child Pages.