



Tubuh perempuan telanjang itu terbaring persis disebelahnya, nyaris sempurna. Mata si lelaki seakan tak pernah puas melahapnya. Jari-jari Henry yang terbiasa dengan tuts piano masih belum rela menjauh dari kulit yang selembut sutera, menari-nari mengikuti lekuk tubuh bagian belakangnya, mengelus punggung wanita muda yang masih terbaring telungkup itu. Turun sedikit demi sedikit, akhirnya jarinya sampai ke sebuah tattoo mungil indah berbetuk bunga mawar yang selalu dikaguminya. Pelan-pelan, kulit telunjuknya merasakan sentuhan hangat kulit mulus wanita itu, memberi sensasi aneh yang membuat gejolak birahinya kembali menggelora.
Tetapi, kali ini perhatiannya agak teralih, ada sedikit keanehan yang sebenarnya sudah ingin ditanyakannya sejak beberapa hari lalu, saat pertemuan terakhir mereka. Waktu itu, ada terasa sedikit benjolan persis di kulit tempat tattoo tersebut bersemayam, sedikit diatas pinggul sebelah kiri kekasih gelapnya ini. Dan benjolan itu kini masih terasa. Henry hafal betul seluruh lekuk tubuh wanita ini, sehingga ia yakin sekali benjolan tersebut sebelumnya tidak pernah ada.
Baru saja mulutnya bersiap untuk melontarkan pertanyaan, tiba-tiba tubuh telanjang itu berbalik, dan dua bola mata indah langsung menerpanya, bagaikan matahari kembar yang menyinari bumi. Seperti biasa, mata itu selalu membuatnya terpesona, yang kali ini membuat otaknya lupa memberi perintah ke mulutnya untuk melanjutkan niat bertanya tadi. Demikian juga bibir indah yang sekarang persis berada dihadapannya. Bibir itu seringkali digunakan untuk menghibur orang-orang, karena ia memang seorang penyanyi terkenal negeri ini. Tetapi, yang membuatnya tak berdaya adalah kemampuan bibir itu dalam memberikan kenikmatan tak terhingga, yang sudah pernah dirasakan oleh seluruh anggota tubuh Henry.
“Tolong lebih hati-hati, mas. Bapak sangat berkuasa, juga berbahaya!” Suara mendesah si pemilik tubuh telanjang membuat Henry kembali sadar, bahwa ia masih belum menjawab pertanyaan kekasihnya tadi.
“Iya sayang, saya pasti sangat hati-hati. Semua orang kenal Bapak.” Tetapi saya tetap akan membongkarnya.
“Aku sangat menyayangimu, nggak mau kehilangan mas.”
“Saya juga. Thanks sayang,” jawab Henry sambil mencium lembut bibir itu.
“Tapi mas harus janji untuk menjaga diri mas baik-baik, jangan melakukan tindakan bodoh,” lanjut si wanita terlihat masih belum puas.
Henry terpekur sejenak sebelum menanggapi. Sampai saat ini, ia masih tetap canggung dengan panggilan kesayangan “mas” dari kekasihnya itu.
“Suatu hari nanti, kamu akan saya ajak ke kampungku. Di pinggir Danau Tondano, dekat Manado.”
“Moga-moga bisa ya mas,” sahut si wanita dengan mata yang berbinar, penuh harap.
“Sesampainya disitu, yang pertama kali akan kamu lihat adalah patung dua orang pahlawan Minahasa. Salah satunya adalah kakekku.”
“Iya deh mas. Aku yakin mas pasti mampu menjaga diri. Aku mengingatkan karena pernah melihat apa yang dilakukan Bapak terhadap orang yang dibencinya, ia sangat kejam. Yang pasti aku akan selalu membelamu, apapun taruhannya.”
Pikirannya yang sekarang terfokus ke orang yang disebutkan itu membuat nafsunya hilang, tetapi memang mereka sudah bercinta dua kali hari ini, lagipula ia memang tidak ingin berada terlalu lama bersama wanita tersebut.
Setengah jam kemudian, ia sudah berada di tempat parkir yang berada di basement hotel bintang empat yang terletak di daerah selatan Jakarta itu. Sambil nyetir, pikirannya tak pernah lepas dari sang Bapak. Instink wartawannya membuatnya menyusun rencana investigasi yang sampai saat ini belum sempurna betul. Tetapi ia benar-benar sangat bersemangat.
—
Pelan tapi pasti, pemuda beransel itu menaiki tangga yang biasa digunakan sebagai emergency exit di Hotel itu. Ia memang tidak menyukai lift. Selain menghindari kamera hotel, juga tempat yang ditujunya tidak terlalu tinggi, cukup untuk meregangkan otot-ototnya sebelum menyelesaikan tugas khusus, yang kali ini sebenarnya tidak disukainya.
Hanya dibutuhkan beberapa menit sebelum ia sampai di lantai tujuannya, keluar ke lorong hotel yang penuh dengan wewangian yang aromanya tidak sesuai dengan hidungnya. Tidak ada seorangpun terlihat di lorong itu, yang membuat langkahnya makin mantap menuju kamar yang terletak di ujung lorong. Beberapa detik kemudian, tanpa perlu mengeluarkan usaha yang berat, dengan menggunakan kunci magnet palsu, ia sudah berada di dalam kamar hotel.
Wanita penghuni kamar itu masih di kamar mandi, suara percik air dengan jelas menunjukkan keberadaannya. Sedangkan tempat tidur satu-satunya yang berada di tengah ruang itu masih semrawut. Seprai, bantal dan selimut malang melintang tidak beraturan. Ia dengan mudah bisa menduga aktifitas apa yang telah dilakukan diatas tempat tidur berukuran king size itu beberapa waktu yang lalu.
Dengan santai ia melepas ranselnya, mengenakan sarung tangan tipis kesayangannya, lalu duduk di kursi sambil meraih majalah yang kebetulan berada di meja di depannya. Televisi yang berada di sudut ruangan ia biarkan tetap menyala, menyiarkan berita-berita usang yang sudah seringkali didengarnya. Sambil membaca, ia menunggu wanita di kamar mandi menyelesaikan mandinya, yang diperkirakannya bisa sampai setengah jam lagi.
Masih sekitar sepuluh menit setelah bunyi percikan air terakhir tak terdengar, baru wanita itu keluar dari kamar mandi. Si pemuda yang mendengar suara pintu kamar mandi terbuka langsung menyingkirkan majalahnya, tanpa beranjak dari tempat duduknya.
Begitu pandangan mereka beradu, wanita yang mengenakan jubah mandi itu terihat sangat terkejut. Tetapi sebelum ia sempat mengeluarkan suara, si pemuda sudah mendahuluinya: “Jangan takut, Bapak menyuruh saya menemuimu disini.”
Suara yang hampir keluar dari bibir wanita itu langsung tertelan kembali. Wanita itu tidak bersuara, tetapi ingatannya kepada pemuda ini menimbulkan rasa ketakutan yang amat sangat.
Aku pernah bertemu dengannya satu kali.
Teman-teman Bapak sangat menghormatinya.
Bukan. Mereka takut kepadanya.
Mata yang mencorong seperti serigala menatap ke sosok yang gemetar. Sang dara bahkan masih berdiri di tempatnya tadi. Si Pemuda memperhatikan si wanita dengan lebih teliti. Ia terlihat sangat cantik, lebih memesona daripada yang pernah kubayangkan. Tapi aku harus menyelesaikan tugas ini dengan baik.
Si Pemuda membuka mulutnya: “Bapak sangat kecewa, ia sangat menyayangimu.”
“Maafkan saya,” isak si wanita. Ia sudah tidak bisa berpikir lagi, hanya kengerian yang menyelimuti jiwanya.
“Ya sudah, mungkin Bapak akan memaafkanmu,” bisik si Pemuda sambil menyentuh tangan si wanita.
Dari balik tabir air matanya, si wanita melihat jemari panjang yang terbalut sarung tangan transparan tipis itu. Ketakutannya makin memuncak, tetapi akal sehatnyapun muncul ke permukaan.
Aku sudah mengira ini bakal terjadi.
Tapi aku tak menduga akan secepat ini.
Si Wanita tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya, berlutut di depan si pemuda. Seperti tak sengaja, jubah mandinya terlepas dari badannya. Tubuh telanjangnya yang harum menyentuh si Pemuda. Sembari menangis, si wanita memohon sambil sesekali mencium kaki lawan bicaranya.
“Tolonglah. Apapun akan saya lakukan jika anda mau menyelamatkanku.”
“Baiklah, jangan takut,” balas si pemuda sambil menyentuh kepala si wanita lembut.
Dari kepala, tangan si pemuda berpindah ke belakang leher. Beberapa totokan dan pijatan yang terlatih membuat tubuh wanita itu lemas seketika. Ia masih sadar, tetapi tidak mampu bergerak atau berbicara. Si pemuda mengangkat tubuh tanpa daya itu, berusaha mengalihkan pandangannya dari tubuh mulus polos yang beberapa saat lalu sempat membuatnya tergetar, lalu memindahkannya keatas tempat tidur.
Tanpa tergesa-gesa, si pemuda membuka ranselnya, mengeluarkan beberapa barang yang sekarang dibutuhkannya untuk menyelesaikan tugasnya. Beberapa tabung berisi cairan bening warna-warni, pisau bedah kecil, jarum dan kain ia bawa ke tempat tidur untuk menuntaskan misinya hari ini.
Mata sayu itu sekarang berembun, lalu butiran air mata bening perlahan-lahan turun mengikuti alur lekuk wajah si wanita cantik. Walaupun tanpa suara, tetapi ekspresinya jelas sekali memohon pengampunan. Si pemuda melirik sedikit, dan pemandangan wajah memelas ditambah bentuk tubuh yang sangat menggoda sedikit mengganggu pikirannya. Tapi itu tidak berlangsung lama, dan ia melanjutkan tugasnya dengan mantap.
Samar-samar, lagu “Pindah ke lain hati” dari KLA Project berkumandang dari televisi di sudut ruangan. Ia sekarang sudah memakai hati baru.
Mendapatkan ide dari lagu tersebut, si pemuda berbisik: “Tak ada yang abadi di dunia yang fana ini. Suatu saat, Tuhan akan mengambilnya dari kita.”
Hanya kata-kata itu yang bisa disampaikannya, yang dianggapnya mungkin bisa menenangkan si wanita.
Tangan si pemuda yang sangat terlatih mengerjakan tugasnya dengan sigap. Ia memberikan suntikan di 25 titik di tubuh si wanita. 24 suntikan pertama berisi zat psikotropika yang akan membuat petugas otopsi mengira si wanita adalah pecandu berat narkoba. Sedangkan suntikan terakhir berisi racun yang tidak berbekas, tetapi mematikan, untuk memastikan agar si wanita tidak akan pernah mengkhianati tuannya lagi, untuk selamanya.
Bak seorang seniman, si pemuda memeriksa hasil pekerjaannya dengan teliti. Hampir tuntas, tinggal satu sentuhan terakhir. Dengan lembut tubuh si wanita ia balikkan, lalu ditelusurinya kulit mulus itu dengan jarinya. Hanya untuk memastikan, karena ia tahu pasti dimana tempat yang dicarinya. Jarinya berhenti tepat di tattoo si wanita, lalu ia ambil peralatan bedahnya. Dengan sedikit sayatan, ia keluarkan sebuah benda sebesar nasi dari bawah kulit si wanita. Benda yang sangat bermanfaat, ia sendiri yang menanamkannya dua minggu yang lalu, begitu si Bapak mencurigai kesetiaan wanita simpanan kesayangannya ini. Chip yang sangat kecil. Sinyalnya dikirim ke satelit untuk menentukan posisi si pemakai.
Sekali lagi si pemuda memeriksa tubuh korbannya. Bekas sayatan itu sekarang sudah hampir tidak kelihatan. Butuh sedikit waktu lagi untuk membuatnya tidak akan kentara sama sekali. Setelah mengembalikan posisi tubuh tersebut ke posisi semula, ia memeriksa seluruh ruangan.
Hanya handphone dan buku catatan harian wanita itu yang diambilnya, sisanya dibiarkan terletak di posisinya. Sebelum meninggalkan ruangan, ia foto posisi terakhir si wanita. Saat itu, tanda-tanda kehidupan perlahan meninggalkan tubuh si wanita. Dengan tenang si pemuda meninggalkan korbannya.
Dari dalam mobilnya, si pemuda berbicara melalui handphone dengan orang yang menugaskannya. Misi telah selesai. Beberapa saat lagi seorang biksu dan seorang perawat akan datang ke kamar itu, untuk membawa tubuh sekarat si wanita ke rumah sakit.










More Options ...

Categories
Tag Cloud
Blog RSS
Comments RSS
Void
Life « Default
Earth
Wind
Water
Fire
Light 
8:34 am - December 1st, 2009
sudah baca novelnya. baik, terus menulis yah.
anhar haitani